Episode 6: How Indonesian Diaspora Stay Connected with Monika Winarnita

The Perantau Podcast – Episode 6: How Indonesian Diaspora Stay Connected with Monika Winarnita. Music by FASSounds. Free for use under the Pixabay Content License. Graphic by Billy Adison Aditijanto. Home to the largest population of active social media users in Southeast Asia and third in Asia-Pacific, millions of Indonesian diaspora actively stay connected with…

15–22 minutes

S1E6. How Indonesian Diaspora Stay Connected with Monika Winarnita The Perantau Podcast

The Perantau Podcast – Episode 6: How Indonesian Diaspora Stay Connected with Monika Winarnita. Music by FASSounds. Free for use under the Pixabay Content License. Graphic by Billy Adison Aditijanto.

Home to the largest population of active social media users in Southeast Asia and third in Asia-Pacific, millions of Indonesian diaspora actively stay connected with what goes on back home through social media.

⁠Dr. Monika Winarnita⁠, Indonesian studies lecturer from the University of Melbourne and Convenor of the Indonesia Forum, joins Billy Adison Aditijanto on The Perantau Podcast to talk about how social media strengthens the international Indonesian consciousness, how migrants have different social media profiles for different needs, and how we usually enjoy greater freedom of speech when abroad.

This episode is delivered with a mix of English and Indonesian.


Transcript

BILLY: Hey everyone, I’m Billy and welcome back to The Perantau Podcast.

BILLY: Kali ini kita kedatangan Dr Monika Winarnita, seorang antropolog dan Lecturer in Indonesian Studies di University of Melbourne. Bu Monika juga saat ini menjabat sebagai Convenor Indonesia Forum, sebuah perserikatan akademik terbuka di University of Melbourne yang juga menasehati kebijakan-kebijakan perkuliahan terhadap isu-isu terkait dengan Indonesia.

BILLY: Her overarching research interest examines the Australia-Indonesia relationship through gender, cultural performances, mixed-race and minority identities, and diasporic community belonging.

BILLY: Tapi inti pembahasan di episode kita kali ini ngomongin tentang bagaimana para perantau berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia dan caranya mereka menempatkan diri mereka ketika di luar negeri.

BILLY: Gue juga sangat berterimakasih sama Bu Monika karena kemaren tuh kita juga buru2 dia mau ngajar soalnya padahal masih asik ngobrol. But either way, we had a really great chat and hopefully you can take away a few key things too. So please welcome Bu Monika.

BILLY: So just to start off thank you again for taking the time buat mengobrol sama saya dan ngomong tentang baik riset ibu serta kehidupan ibu juga sebagai perantau. Jadi, I think we can start to talk about the more serious topics di mana I want to talk about your research on educational mobility and the transnational families online communication.

BILLY: Kita sebagai perantau, kita di sini dengan keluarga di Indonesia maupun di tempat lain. We see a lot of changes in how we talk to those back home and the methods in which we communicate. kalau misalnya kita sebagai orang Indonesia, ya bisa ada WhatsApp, tapi kita di sini mungkin pakai Facebook Messenger atau Instagram atau kita juga uh mengkonsumsi berita yang beda-beda juga, dan semua juga beda.

Oh before we get into that, we were talking a lot about polymedia.

Tadinya my initial question was mostly about social media when we talking about transnational communication social media Instagram. Jadi, uh most of it is social media. Tapi so on one hands social media media. Jadi, how

how how the social media and you know generally shape the international consciousness. Waduh.

MONIKA: Ok jadi, satu per satu kali ya. Misalnya polymedia itu, dari kolega saya namanya Jolynna Sinanan ya, dia dulu di sini, di Melbourne, di RMIT. Jadi mereka melihatnya dari penelitian mereka di Facebook dan saya melihat bagaimana sebenarnya ini itu dari – karena saya antropolog ya – jadi saya itu berbicara dan mestinya juga hidup dengan warga atau partisipan penelitian saya ya, tapi untungnya saya juga hidup di Melbourne.

MONIKA: Jadi, partisipan saya juga waktu itu untuk penelitian ini mengenai em diaspora Indonesia dan pemakaian uh sosmed dan juga uh Ya, internet dan daring atau online gitu ya bahasa Indonesianya. Itu kebanyakan mereka dari Melbourne itu postdok saya ya. Jadi sudah saya dapat S tiga, terus kemudian em itu penelitian kalau enggak salah di- di funding oleh Kanada gitu ya.

MONIKA: Mereka itu kepengen tahu mengenai perempuan Southeast Asia, uh keluarga dan di era global dan bagaimana komunikasi gitu kan ya. Jadi, Jadi kebanyakan juga perempuan yang saya yang menjadi peserta peneliti begitu ya. Dan menarik juga karena mereka waktu itu kan juga masa-masa pemilu tahun 2019, 2014 gitu ya.

MONIKA: Dan mereka itu bilang saya itu ada beberapa akun, gitu ya. Dan juga tidak cuma sosmed jadi ada blog. Blog blog itu bukan sosmed kali ya. Dia punya blog sendiri tapi mereka bilang saya itu uh memakai akun-akun ini dengan cara yang beda, gitu misalnya. Dan juga Whatsapp misalnya satu buat, ada satu partisipan yang memang orang tuanya ada cari gitu ya.

MONIKA: Jadi satu uh akun Whatsapp buat keluarga bapak saya, satu akun buat ibu saya, gitu ya. Terus kalau buat misalnya Facebook itu sebenarnya buat ibu saya, karena ibu saya kan sudah lansia dan buat ibu saya itu buat dia koneksi dengan teman-temannya yang dulu gitu kan ya. Jadi saya itu membantu support ibu saya di Facebook itu.

MONIKA: Tapi saya punya Instagram buat teman-teman saya sendiri, kalau Twitter itu, dulu Twitter sekarang X buat kerja saya. LinkedIn juga kerja saya, gitu. Jadi, jadi personalnya beda-beda gitu ya. Terus ada satu juga bilang kalau di blogger itu, nama saya itu nama samaran. WhatsApp, keluarga juga satu tapi terus kalau di sosmed lain itu nama samaran.

MONIKA: Saya tanya “kenapa begitu?” Karena waktu itu, 2019 pemilu itu, ya karena keluarga saya itu mengharuskan saya memilih Capres A. Tapi saya itu ga mau; kalau saya lebih kepengen Capres B, itu nanti saya kayak di-bully gituloh. Terus ada yang juga bilang mereka diusir dari WhatsApp karena memilih capres A, enggak milih capres B gitu.

MONIKA: Dan semua di apa, di Whatsapp group itu memilih capres B gitu. Jadi, waktu itu sosmed itu jadi semakin juga ikut dengan politik. politik identitas gitulah. Jadi dan menariknya di diaspora ini, satu bahawa mereka masih bisa merasa tekanan dari keluarga di Indonesia terutama waktu pemilu begitu ya.

MONIKA: Meskipun dia di luar negeri gitu loh. Terus saya nanya, kenapa dia sosmetiz sembilan puluh sembilan persen itu  ya Indonesia semua, jadi saya enggak engage atau enggak itu dengan  saya salah satu itu mahasiswa itu dengan dengan kolega saya di sini. Jadi, Kebanyakan kalau saya itu sembilan persen itu kontennya Indonesia saja gitu.

MONIKA: Jadi meskipun di diaspora sangat dan ini saya lihat juga di dia banyak  di penelitian saya, diaspora Indonesia yang yang menjadi peserta penelitian saya itu, mereka sangat engage gitu loh. Jadi semua ya pemilulah, politiklah,  keluarga,  sosialisasi, mungkin em. masih apa namanya, kelompok gjalah, masih di Indonesialah, kelompok apa  agama lain gitu masih  nyumbanglah ke Indonesia jadi sangat sangat transnasional gitu ya.

MONIKA: Jadi transnasional itu ianya meskipun hidup di luar negeri, misalnya di Australia, tetapi masih sangat em engage atau hubungannya masih sangat terap dengan sosial politik situasi di home country atau di Indonesia itu – di negara asal gitu ya. Jadi itu transnasional. Jadi diaspora Indonesia itu begitu, mungkin tidak kayak diaspora lain, ya, mereka begitu punya hubungan erat, dan kehidupannya masih bisa kayak kata salah satu periset, 99% itu kehidupannya ya seperti di Indonesia melalui social media itu lah.

BILLY: Dan paling itu juga jadi keingat istilah remittance. Itu jelasin bagaimana.

MONIKA: Tapi kan

BILLY: Iya. Tapi biasanya in the usual sense itu biasanya begitu. Tapi another definition kita juga bisa tentang social capital. Baik dari segi pengetahuan dan sumber-sumber kapital lainnya juga, begitu. Jadi, lewat sosial media gitu, misalnya yang paling umum, begitu ya lewat sosial media.

BILLY: Bagaimana itu sejauh ini mempengaruhi politik identitas tadi itu. Di mana ketika mereka di sini, apakah mereka ada walaupun dari segi sosial media masih banyak tentang Indonesia, begitu. Tapi kan mereka dengan tinggal di sini, apakah ada pengaruhnya kepada identitas mereka juga? Apakah mereka meresap sudut pandang lain juga, begitu, yang lebih global, begitu misalnya karena mereka di luar negeri.

MONIKA: Artis-artis, maksudnya artis, bukan artis filem ya. Tapi artis artis kayak em apa namanya, yang bikin em you know, like seni, seni gitulah. Seni rupalah atau wartawanlah gitu. Jadi mungkin bisa dibilang intelligensia atau apa gitulah ya. In in the old sense atau apa  ya, kata lama gitu pokoknya yang yang kosmopolitan gitu ya.

MONIKA: Jadi ide kosmopolitan kan dulunya ya, untuk keterbukaan kepada dunia kayak global gitu ya. Jadi, dilihat dulu itu  ini itu dari filosofer, namanya Kian, filosofi. Tapi juga dilihat bahawa  orang-orang yang ya yang yang aktivis-artis, jurnalis, akademis gitu kan ya. Mereka itu dulu adalah group kosmopolitan itu yang bisa ke ke kota-kota besar, gitu ya.

MONIKA: Dan punya keterbukaan untuk ide dari luar, openness kita katakan dia itu. Tetapi sekarang kosmopolitan itu kan juga bisa orang biasa yang merasa, oh mall di Jakarta sama dengan mall di Melbourne, sama dengan mall di New York, saya merasa kerasan di mana saja. Itu juga perasaan kosmopolitan. Dan mereka ini yang yang penelitian saya dengan mereka ini, mereka merasa ya seperti itu keterbukaan lebih ke sudut pandang yang lain, mungkin karena profesinya.

MONIKA: Mereka mungkin bisa menganalisa dari segi lain gitu ya, kalau misalnya sebagai artis bisa mengkritik society, bisa mengkritik masyarakat atau pandangan dan ide-ide moral gitu. Jadi mereka punya punya sudut pandang lain gitu ya.

MONIKA: Dan untuk mereka itu, mereka bisa melihat bagaimana dan juga mahasiswa misalnya ya, bagaimana di Australia itu mereka punya kebebasan untuk menjadi misalnya jadi orang lain punya akun lain kita di sosmed, bisa terserah gitu. Jadi maksudnya bisa mengkritik-kritiklah atau apa gitu ya. Situasi dia kalau semacam mereka mahu dan menurut ya jadi bisa kita membuat keterbukaan.

MONIKA: Tetapi juga pisah, ada juga orang Indonesia yang begitu melihat, wah, saya jadi minoritas ini sekarang waktu di Indonesia saya majoritas gitu ya. Jadi, wah, saya merasa misalnya identitas politik, kok jadi minoritas dengan agama inilah atau identitas politik lainlah. Jadi, saya harus mengkukuhkan identitas ini. Inilah ertinya menjadi orang Indonesia, gitu.

MONIKA: Di Australia, karena waktu di Indonesia enggak mikir gitu loh. Kan saya mayoritas di sini, oh sekarang jadi minoritas. Wah saya jadi kepingin mengkukuhkan identitas saya sebagai Indonesia itu, ABC. Jadi saya akan lebih, ABC lagi, gitu. Misal jadi ada ada Ada ya, itu individu ya. Dan bagaimana mereka dan juga social network nya dan apakah you know bagaimana mereka bisa mendapat pandangan lain apa tidak dari atau merasa ditantang dengan pandangan lain.

BILLY: And since you brought up tentang masalah anonymity online juga gitu ya; having that freedom to absorb and different kinds of news. So you were also researching at one point Indonesian female journalists participate in gender activism dan di situ saya menurut saya menarik.

BILLY: Jadi, kita sempat ngomongin juga walaupun more recently mungkin belum ada more concrete research yang boleh publish. Tapi berdasarkan apa yang ibu sudah pernah lihat sejauh ini, sejak em paper itu di publish tahun 2020 ya COVID. based on what you do Indonesian diaspora members experience greater freedom of speech on social media compared to within Indonesia? how does it affect online general activism?

BILLY: So kita lihat di Indonesia dan di luar negeri. Kan ada itu juga keterbukaan begitu ya. Dan kebebasan berpendapat begitu. Kadang-kadang kita bisa merasa em dicekang atau merasa takut juga kalau kita berpendapat yang beda juga di Indonesia yang tadi ibu bilang begitu. Apalagi dengan keluarga ataupun dengan social circle yang ada di Indonesia, begitu.

BILLY: Jadi, kalau misalnya kita lihat em the more professional apa ya, more concrete profession seperti jurnalis dan khususnya female journalist, do we see that parallels with females in general juga or is it just confined in the realm of journalism maksud saya.

MONIKA: Hmm. Okey. Ya. Jadi ada dua segi ya, dari pertanyaan itu karena penelitian saya sebenarnya mengenai female journalist yang di Indonesia.

MONIKA: Ya, meskipun penelitian saya juga mencakup female journalis atau perempuan jurnalis yang di Australia yang memang menetap di Australia juga ya. Jadi buat yang yang menetap di Australi, ya, em salah satu di penditaan saya ini ada seseorang yang juga juga penulis ada di. em terbitan saya dan dia merasa itu seperti katanya dalam bahasa Inggeris, it’s like a double edged sword Jadi, pisah yang tajam dua sisi.

MONIKA: Saya pernah bicara di mana dia punya perasaan bahawa dia geografis lebih ada jarak jauh, ya, berarti dia punya kebebasan dan ada ada juga jarak untuk bisa melihat Indonesia dari jarak jauh dari, jadi bisa menganalisa dari jarak jauh gitu ya. Jadi tidak begitu di tengah-tengah kita semua kejadian tapi dari jarak jauh dan itu membuat dia punya pandangan lebih lebih luas menurutnya dia, tetapi juga karena dia di luar negeri, di sosmed dia dikritik oleh orang Indonesia, lah kamu di luar negeri, kamu enggak tahu apa-apa mengenai Indonesia, diam saja, kenapa kamu apa, mengkritik-kritik Indonesia kan kamu di luar negeri ini enggak enggak hidup di sini gitu.

MONIKA: Jadi tidak dianggap semacam kayak autentik gitu loh apa yang dia katakan itu kan karena kamu tinggal di luar negeri gitu. Ya, jadi that’s the double edged nya buat dia gitu. Jadi dia merasa tidak dianggap em sebagai seseorang yang yang punya wewenang untuk untuk untuk membicarakan hal-hal yang dianggap penting di bidang sosial, ekonomi atau politiknya Indonesia karena dia di luar negeri gitu.

MONIKA: Mungkin orang akademisi juga ada, Indonesia yang di sini juga pernah merasa begitu juga, ya, kamu di luar negeri gitu. Enaknya saja gitu. kamu tidak hidup di sini, tidak, you know ada, jadi ada perasaan mungkin ya. Kenapa tidak, tidak loyallah gitu ya, kepada Indonesia. Kenapa tidak balik ke Indonesia itu untuk untuk membantu membangun negeri dan sebagainya, tidak mungkin ada perasaan seperti itu.

MONIKA: Dan um mengenai perempuan ya, ada gender digital citizenship nya itu yang saya tulis itu bagaimana teori digital citizenship itu kan ada tiga, ada tiga ya. Jadi satu itu, bagaimana mereka bisa menangkal. yang menangkal i- ideal-ideal em gender apa ertinya menjadi perempuan harus menjadi isteri seperti ini ini ini gitu.

JMONIKA: adi ibu seperti ini ini ini itu ada di di sosmed itu mereka bisa menangkal itu juga belum berati kalau menjadi isteri atau ibu yang baik itu harus seperti ini gitu. Kalau saya enggak mahu jadi isteri bagaimana? Kalau saya enggak mahu jadi ibu bagaimana gitu kan ya. Jadi itu ada, ada ruang untuk mereka menangkal ideal-ideal gender ini – gender dan juga secara kreatif mungkin dengan you know puisi lah, apalah gitu kan, secara kreatif dengan tulisan fiction, apa gitu, ada ada ruang begitu untuk melakukan itu dan juga untuk mengorganisasi kegiatan-kegiatan aktivisme, ya. Jadi digital citizenship dan internet itu membuat ruang untuk bisa mengorganisasi gitu, dari luar.

MONIKA: Ya, itu dari mana saja sebenarnya. Ya. Begitu dan tetapi yang saya lihat ya, bagaimana kalau itu mengenai um movement-movement buat hak-hak perempuan, begitu. Jadi dan juga perempuan jurnalis yang saya teliti itu dengan kolega-kolega lain, tidak hanya saya, mereka itu membikin media alternatif seperti The Perantau.

MONIKA: Tetapi untuk perempuan dan minoritas. Ya, buruhlah juga orang miskinlah gitu. Jadi dan itu karena mereka itu dipecat atau dikeluarkan atau karena situasi media massa tradisional yang tutup karena digital era. Dan semua orang sekarang lihat news dari online, tidak lagi mem- membaca atau membeli surat khabar dan majalah Femina dan sebagainya sedangkan lagi, gitu.

MONIKA: Jadi, ya banyak juga jurnalis di masa itu yang dipecatlah, terutama perempuan karena dianggap, oh kamu bukanlah em yang yang membawa nafkah buat keluarga misalnya. Lebih penting ya, mungkin juga jurnalis perempuan yang dipecat dulu gitu. Kasihan. Tapi mereka mendapat ruang atau um oportunitas melalui digital media untuk membikin media sendiri gitu, khususnya buat membicarakan masalah-masalah yang dihadapi perempuan, begitu.

BILLY: Dan itu when we’re talking about alternative media media alternatif, kira-kira itu seberapa efektif sih sebenarnya dalam em disseminating that sort of information and news? Ya.

MONIKA: Saya enggak meneliti efektivitas. Saya enggak tahu apa itu AI lah atau apa maksudnya jadi saya tidak tahu efektivitas cuma em mendapat ruang untuk memberi suara saja itu sudah bagus dan saya melihat bagaimana mereka itu kerjasama dengan aktivis perempuan atau aktivis gender lainnya. Jadi identitas sebagai jurnalis itu kadang-kadang ditantang sendiri karena jurnalis kan semestinya independent, ya. Tetapi kalau masalah-masalah hak-hak perempuan di situlah di mana ada jurnalis yang bilang saya juga, ya saya aktivis jurnalis. Misalnya waktu dia mengenai kekerasan seksual perempuan, me too movement gitu kan ya.

MONIKA: Mereka aktivis juga dan jurnalis. Dan ada yang bilang, oh tidak, itu pisah. Jadi kita cuma kerjasama dengan group atau kelompok-kelompok aktivis gender. Jadi, efektivitasnya ya dengan mereka punya suara dan juga Bagaimana mereka kolaborasi dengan LSM-LSM ini misalnya ya. Begitu. Jadi mungkin beda dengan tradisional jurnalis yang itu ada, ada perbezaan begitu. Saya jurnalis, saya independent begitu. Sekarang sudah ada perbauran dengan dengan pekerjaan aktivis untuk hak-hak gender dan perempuan dan minoritas, begitu.

BILLY: Ini kan ibu sebentar lagi perlu mengajar ini. I’d like to wrap it up by just one more question mungkin lebih lebih personal dikit bukan terlalu akademik.

BILLY: Karena tadi ibu juga ungkit ada that notion di mana banyak banyak juga Indonesian academic yang ke luar negeri begitu menumpuh di luar negeri, menumpuh pendidikan tapi menumpuh riset mereka juga, begitu. Jadi, sekarang pertanyaan saya, Ibu, alasannya kenapa keluar Indonesia? Kenapa juga sebab dia ibu dari 1997 S1 di Canberra, begitu.

BILLY: Jadi, di sini sudah hampir tiga dekade, begitu ya. Yang mengajar pengalaman mengajar di ANU, LaTrobe dan itu pun juga itu itu juga enggak semuanya, gitu. Masih masih ada lagi, begitu and mostly itu Indonesian studies Jadi, aku pengen mengerti, What is your rational sebenarnya dalam menempuh pendidikan di luar negeri satu, dan fokusnya di Indonesian studies dan sekarang setelah sekian rada masih fokus di bidang itu di mana ibu di luar negeri.

MONIKA: Saya sebenarnya datang ke Australia waktu umur dua belas tahun karena ibu saya dapat beasiswa dari ANU untuk mengambil S tiga bidang antropologi. Dan kemudian waktu umur tujuh belas tahun, ibu saya baru selesai dan orang tua saya bilang, wah, kamu enggak mungkin bisa lulus U Petek. Petek. Masuk Universitas Indonesia itu susah.

MONIKA: Kamu enggak bakalan bisa karena kamu SMP SMA nya di sini. Sudah, tinggal lagi di sini. Jadi sebenarnya enggak bisa lulus. Enggak bakalan lulus di Indonesia untuk masuk Universitas Indonesia. Jadi sebenarnya itulah dan kemudian saya milih mengambil uh S satu bidang komunikasi media karena saya Pingin jadi jurnalis waktu itu.

MONIKA: Jadi jurnalis atau apa namanya, dokumen, you know documentary film maker atau apa begitulah. Tapi terus em kemudian ada apa ya, kecelakaan atau apa gitu ya dengan membikin website buat. Bu universitas, selama tiga puluh dua jam enggak berhenti. Pakai mouse yang dulu bubble itu loh. Yang komputer Apple bubble yang pertama itu, waktu itu belum ada ergonomic setup.

MONIKA: Jadi terus, oh kita menang nombor dua di Asia Pasifik tapi saya memberi tangan kanan saya. gave my right hand to the university. terus em. Jadi terus dosen saya bilang, ya sudah kamu enggak bisa lagi kerja di industri, mahu multimedia, mahu bikin animasi gitu, enggak mungkin dengan tangan kamu seperti itu.

MONIKA: Kamu kenapa enggak teori saja gitu. Kamu suka kot teori kebudayaan gitu, lumayan angka-angka kamu lumayanlah gitu. Dah bisa, bisa ambil S satu honors gitu kan di sini kan D tiga atau owners. Usia udah ambil S satu owners nya di gender and cultural studies terus ssat itu juga pas-pasan, masuk dapat lapan puluh satu, yaitu HD gitu.

MONIKA: Jadi, dan sebenarnya di gender cultural studies mereka bilang, wah, kamu enggak bisa ini S tiga, coba cari S tiga di lain gitu. Kamu pas-pasan cuma lapan satu gitu. Terus. Saya cari-cari setahun gitu, terus dapat antropolog, terus senang gitu. Jadi, saya sebenarnya sama supervisor saya itu berkati Robinson, bagaimanakah kalau kamu jadi research assistant saya, kamu meneliti uh orang-orang Indonesia yang tinggal di Canberra, saya ada funding ini dari Australian Research Council, kamu deh yang meneliti, sana, sana, interview gitu.

MONIKA: Kamu kan sudah hidup di Canberra sudah lama gitu. Ini ini orang-orang kamu gitu. Sudah, sudah di sana. Kau siap sudah. jadi sponsor saya buat S tiga biasiswa uh negara apa nama, Australi. Jadi, jadi saya menetap karena ya itu, pas-pasan keterusan. Saya juga senang, sebenarnya saya ambil S3 dibayar untuk menjadi mahasiswa.

MONIKA: Jadi saya mikir, wah, jadi profesional mahasiswa dibayar untuk baca buku, oke lah. Boleh. Mau lah. Tapi saya memang senang jadi mahasiswa gitu. Jadi macam baca teori-teori itu. Wow, teori M S satu itu, orientalisme, oh, saya tidak tahu. Wah, gitu. Jadi, jadi saya senangnya gitu teori-teori gitu. Wah, jadi, jadi profesional, sebenarnya profesional mahasiswa saja kan. Itulah maka saya terus menerus enggak, enggak enggak keluar dari universit sampai sekarang sebenarnya.

MONIKA: Ya, terus, terus ya sudah. Enggak bisa jadi, enggak bisa jadi yang lain. Sudah, sudah, sudah, sudah di universitas saja gitu. Dan Indonesia ya, ya dapatnya kerjaannya di sini. Saya cari tahu untuk antropolog ya satu semester gitu. Asian studies beberapa semester tapi terus. Dikasihnya Indonesian studies terus ya sudah.

MONIKA: Ya, begitu ya, menarik saja sebenarnya menariknya setiap kali saya nulis esei atau apa gitu ya di di misal communication cultural studies itu ya selalu mengenai Indonesia. Ya sudah. juga sebagai ya diri saya, kenapa saya di sini, gitu. Dan ya, dan besarnya di sini, remajanya di sini, gitu. Kenapa tidak banyak orang perempuan Asia di media gitu.

BILLY: The Perantau Podcast is always looking for new stories to tell and people to meet. So, if you have a story worth telling, don’t be shy. Reach out on Instagram, LinkedIn, email, or wherever else you may find The Perantau Podcast. Until then, thank you, and see you soon.

The views and opinions expressed in this article are those of the authors and interviewees and do not necessarily reflect the official policy or position of The Perantau or its editorial team. Any content provided by our contributors is of their own views and is not intended to malign any religion, ethnic group, organisation, company, or individual.

S3E1. Indonesian speech therapist talks about working at Australia's best children's hospital | Sabrina Suwandi The Perantau Podcast