Episode 11. A Taste of Home Away From Home with Giovanni Sutjiutama and Kenangan

S1E11. A Taste of Home Away From Home with Giovanni Sutjiutama and Kenangan The Perantau Podcast

The growing number of Indonesian restaurants in Melbourne is solid proof of the high demand and the high quality of Indonesian food readily available. From nasi goreng to iga bakar, to Indonesian coffee and es campur, Indonesian food looks to pave the way to bring Indonesia to the world.

As its namesake, Kenangan brings Indonesian flavours and culture to Australia, rekindling memories of home and sparking new ones along the way. Although having started out as a vacuum-packed delivery service during COVID, they have now fully transitioned into a full-time restaurant at Queen Victoria Market, with people coming in the masses.

Kenangan co-owner ⁠Giovanni Sutjiutama⁠ joins ⁠Billy Adison Aditijanto⁠ on The Perantau Podcast to share the highs and lows of running a restaurant while having no background in F&B, prospects for Kenangan to spearhead a Little Indonesia in Melbourne, and why the craze for Indonesian food is a sign for good things to come.

This episode is predominantly delivered in Bahasa Indonesia.

Find Kenangan on: ⁠Instagram⁠ | ⁠Kenangan.com.au⁠

Find the Perantau Podcast on: ⁠⁠⁠Instagram⁠⁠⁠ | ⁠⁠⁠LinkedIn⁠⁠⁠ | ⁠⁠⁠ThePerantau.com

Music by FASSounds via Pixabay. Graphic by Billy Adison Aditijanto.


Transcript

 BILLY: Hey everyone! I’m Billy and welcome back to The Perantau Podcast.

Billy: [00:00:00] Jadi biasanya di awal, aku biasa suka nanya siapa pun yang gua ngobrol itu,

ini siapa??

Giovanni: Anak ketiga dari keluarga yang satu-satunya di Melbourne. Semua keluarga di Indonesia. Dan. berkeluarga di sini. Abang tak ada interesting. Yang lain pada buka bisnis juga. ah ya. Tapi dari K I. K. Satu di architecture, satu lagi di Nikel. 

Billy: Beragam pertemuan keluarga nggak pernah bosan itu.

Bokap di production house[00:01:00] 

Tapi masalahnya ada untungnya juga sih, lebih ke karena setiap kali ketemu berarti different perspective. Oh itu jadi belajar hal baru, hal baru. Dan ngomongin hal-hal baru, kenangan kenangan juga sebenarnya. relatif belum terlalu lama ya. Kalau dibandingin banyak restoran Indonesia yang lain di Melbourne, banyak sudah sekian dekade juga gitu.

Jadi kadang-kadang dibandingin ya itu baru ada pas lockdown tapi pas lockdown itu juga awalnya sebagai yang vacuum pack begitu ya. Jadi sebenarnya apa sih yang membedakan kenangan dari restoran Indonesia lain? 

Giovanni: mungkin apa ya, dengan adanya muncul banyak restoran Indonesia itu menurutku ya. Karena uh aku sih aimingnya pengennya kayak kita bisa pakaian gitu.

Ada gastro diplomasi yang berjalan terus. Dan jadi kalau misalnya banyak bermunculan restoran Indonesia, kita malah tambah senang gitu. Jadi, oh, we’ll be well known gitu ya. ah In terms [00:02:00] of bedanya, apa ya? I guess um Dari kita melihatnya sih setiap restoran Indonesia itu semua pasti berbeza-beza kerana mm kalau dibilang authenticity itu kan tergantung dengan How you brought up ah lidah kamu itu dari kecil itu sudah ngerasainnya apa gitu.

Jadi, setiap restoran Indonesia pasti punya style sendiri, stail masing-masing, segala apa begitu. So, everyone is different. mm Mbe kalau mahu dig deeper yang kita lihat, mungkin aku salah ya. Itu mungkin restoran kenangan itu yang pertama kasi choices of sambal. Mungkin. 

Billy: kedua saya jujur ya. 

Giovanni: teras, the best itu.

Ya, sama maybe another thing I don’t know ya. Kadang kan aku nggak tahu di restoran lain itu di mana, kita itu have a vision of not being restoran. Tapi kita have a bigger vision mahu do something else other than [00:03:00] restoran gitu. Anything involving of introducing Indonesia ke luar negeri. Bically. 

Billy: dan Macam mana ya?

Semakin ke sini. Menurut Kul makin laku nggak masalah uh the the demand for Indonesian food gitu. Di- di- baik dari kalangan Orang Indonesia sendiri di sini mahupun semua orang-orang boleh juga di sini. 

Giovanni: I think yeah, I think demand definitely increasing. I think after COVID itu. Maybe people spend more time in internet, they get more exposed.

juga.

Lumayan increasing ah so they know more than just Bali. 

Billy: Which is good. Nah, itu kan kenangan, [00:04:00] balik lagi ini. Kenangan dulu pertama kali didirikan dua ribu dua puluh, tapi um as ready gitu ya. Tapi kemudian transition jadi ke restoran yang bukannya cuma malam saja itu sekarang jadi buka day and night uh Dan sebenarnya itu bagaimana sih itu proses transisinya dari tahap satu.

Yang- yang sebenarnya remote gitu ya. Online technically online pengiriman dua orang. Terus saya tahu malam doang, terus saya tahu jadi full day na restoran. Itu transisinya bagaimana itu?

Giovanni: ah Kalau misalnya tahu dulu kan kita sebenarnya pertamanya initially bukya ah Mando. Japanese sandwich itu. And then ah Covid happens ah jadi kita buka itu kalau nggak salah November. Dua ribu sembilan belas kalau nggak salah. Terus habis itu lockdown happen the next. Matnya langsung lockdown ah terus kita cuba just surviving buat Mando saja.

Tapi as we go on I don’t think [00:05:00] we can survive Kalau misalnya buka Msando doang, dan kita coba putar otak saja gitu. Okay, bagaimana how can we utilize this space ah untuk kita bisa pakai malam ini juga. dan tercetus itu dari my brother-in-law, which is the chef kenangan itu ngomong rada kangen ya ya.

Terus juga katanya, mm Banyak makanan Indonesia yang Apa ya, yang bukan makanan Indonesia, sorry ah banyak orang-orang Indo itu yang enggak bisa reach makanan Indonesia kerana ah because of the radius kan di limit kalau tidak salah kalau tidak salah waktu itu kan.

kilometer. Jadi kita harus Jadi kita bisa ke. Ke stor, kerana aku tinggalnya juga jauh dari store kan. Jadi kita have that [00:06:00] permit to operate FNB gitu. So we are thinking oh, why not kita yang bawa makanannya ke mereka. So that’s that’s where it start the vacuum packed food. And that’s also in line with what we wanna do gitu.

Which is how can we utilize tempat ini, gitu. Jadi malamnya, operates a ghost kitchen saya. ah yang kirim-kirimin. Mereka yang masak, aku yang kirim-kirimin ke mm ya ke rumah-rumah orang. And responnya itu lumayan bagus gitu. I mean pertama-pertama always pasti not that good tapi it picks up sampai akhirnya, Kita ngomong, oh ini kayaknya sudah lumayan ease down lockdown nya.

Mocor bang untuk take away only. Jadi atas pelan kita langsung coba saja. Kita buka untuk take away only Okay, oh, di mana lumayan tinggi juga, gitu. Jadi kita go on as apa, lockdown [00:07:00] is down kita juga cuba open up more gitu. Which is akhirnya kita bisa buka malam untuk dine in dan take away. Tapi kerana demand increase buy a lot, kita nggak bisa cope with the vacuum pack Akhirnya, akhirnya unfortunately kita harus tutup yang vacuum pack kita fokus ke store saja, begitu.

Dan dari sana kita lihat juga, oh, ianya lumayan increasing increasing terus di mana gitu. Which is good dan akhirnya ya, apa ya, kita make the hard decision untuk Akhirnya close down with juga, gitu. uh Kerana we find it really difficult to operate kitchen brands on the one kitchen. Kerana kita stoknya kan two different apa ya, cuisines gitu ya.

Dan kita sudah tidak punya tempat kerana increasing of demand. Akhirnya ya sudah kita tahun dua ribu dua tiga awal itu kita decide untuk close down dan Buka kenangan secara full akhirnya. Dan sampai sekarang [00:08:00] 

Billy: Padahal sayang itu, stem gua dia yang belum kepakai ma. Padahal masih setengah tutup. Ya. Enggak jadi.

Dan apa sih what was the final decision yang membuat kalian itu, ya sudah deh Mi cando akhirnya kita tinggal. Soalnya kan itu yang you first venture FNB sebenarnya. Ada mi cando gitu. Di akhir dua ribu sembilan belas. Jadi apa sih yang akhirnya benar-benar. Ya sudah deh kita kita lapas.

Giovanni: I mean realitanya saja kerana kenangan itu is doing much better than Midando. Terus kita ada mikir-mikir, maksud saya rada sayang juga like our first baby. Midando. um and we put a lot of effort into it. Tapi realitanya ya, financially kenangan will work better gitu. Dan we can see mm potential growth nya itu lebih ke kenangan daripada Am sandu gitu.[00:09:00] 

Dan akhirnya ya, Really really hard tapi uh we decided all together untuk close Tapi ada sebelumnya ada back and forth juga the group then we should just keep it open it up somewhere. Tapi kayaknya kita fokus all our effort untuk ke one brand dulu.

Billy: Sekarang? Sekarang dari Februari.

Giovanni: Sekarang ya.

Tapi itu pop.

test at the moment. 

Billy: So pastikan juga laku di kalangan mahasiswa juga masih. Pastikan easy [00:10:00] tegur casual ya sudahlah makan di mana juga bisa tengok di bawah, gitu.

Dan itu sebenarnya konsepnya juga

dua ribu dua dulu bahawa justeru itu.

Apakah itu ada kaitannya ke filosofi kenangan sekarang?

Giovanni: apa ya? Gak mahu anything yang complex in the sense ah fine dining atau apa begitu kerana kita ah in flavour aku trust my brother-in-law Okay. Dia pasti bisa handle flavour nya gitu. Tapi in terms of presentation kita we just want to elevate it tapi not too much gitu. As long as it looks good ah dan satu yang prinsip yang kita pegang itu.

Sebisa mungkin kita mahu yang what you see is what you get gitu. [00:11:00] Jadi kalau yang apapun yang difoto, itu yang kalian bisa dapat pas kalian pesan, gitu. At least we try lah ya. Karena supply sekali lagi itu pasti ada perubahan-perubahan tapi that’s what we are trying to achieve. 

Billy: Dan apa pentingnya sih in that sense uh saya kan you were talking about gastro diplomacy tadi kan.

Jadi, menurut you sendiri, why do you see yourself kenangan uh posisinya sebagai as ambassador the Indonesian Gastro Diplomacy. Setidaknya setidaknya dulu di

Sebenarnya peran apa sih yang sudah memainkan sejauh ini?

Giovanni: Kay. Ya, kita mulai dari kecil lah. Dari dari from our own store I guess. That’s how we can promote Indonesian food. How we can explain it to people who are not aware apalagi di Queen Victoria Market itu banyak orang yang market goers. um Jadi a lot of potential there yang orang masuk dan tidak [00:12:00] tahu ini sebenarnya apa gitu.

Karena kita punya ah lokasi at the moment kan ah dekorasinya pun juga very minimalistic kan. Orang selalu fikir kita kafe. So lepas mereka walk in. They thought it’s a cafe but ternyata Oh, makanan Indonesia. Nah, itu adalah, apa ya, potensial yang kita bisa ambil gitu. Untuk. gitu. Oh, Indonesia itu ini.

Makanannya ada ini ini ini ini. Biasa paling gampang adalah yang paling terkenal. Oh, rendang, nasi goreng, sate. Terus habis itu baru kita bisa yang lain-lain.

Billy: Thank you speaking of gastro diplomacy kemarin gue sempat ngobrol sama. Konsul General Indonesia di Melbourne dengan Pak Kuncoro. uh dan dia sempat menyinggung juga perannya ICAV Indonesian Culinary Association of Victoria dalam mendukung perkembangan dunia kuliner Indonesia di Melbourne. Giovanni sendiri merasa terbantu sama mereka.[00:13:00] 

Giovanni: Tapi it’s a very good initiative.

Ya. Karena aku baru melihatnya itu pas festival Indonesia Victoria Market. But it’s a step forward. I mean I’ll be looking forward mereka punya inisiatif ke depannya apa. Kerana pas uh lockdown itu, I think sebelum ICF there is a like a group group.

Ya, Facebook. I think they are part of ICAF. I’m I’m not too sure. Tapi it’s a good initiative lah. Jadi ada orang-orang yang benar-benar mendukung satu sama lain. mm Ya satu restor Indo ke resto Indo yang lain. How to help out dan tahu juga mereka suka ah promote menunya gitu kan. Oh, berarti [00:14:00] menu-menu ini yang sudah ada ini, gitu.

uh which is beragam dan dia bisa forward juga ke orang-orang yang belum tahu makanan-makanan itu, gitu.

Billy: Dan kemarin kalau tahu sempat ada MOU antara Bandung Melbourne. Dan itu lagi itu delegasi Bandung juga pernah ngomong ke Pak Koncoro juga. Dan itu ada round table mereka sempat singgung juga bahawa bagaimana prospeknya kalau ada Little Bandung gitu misalnya. we have um Apa Korean Street Corner gitu kan.

Nama Rio sendiri, memungkinkan nggak ada Little Indonesia gitu. 

Giovanni: P. P. I.

Singnya pun yang orang Indonesia.. Siapa tahu dia berubah jadi Indonesia..[00:15:00] 

Thailand sudah bukan apa ya, bukan Thailand town tapi mereka menjamu di mana-mana. Sudah ada Chinatown juga. So, I’m really hoping bisa ada in each country. Chinatown. Mungkin bisa jadi.

Billy: Nah, now on a more personal note ya, dunia kuliner dan dan bisnis ini is a big career change for you uh S sejauh ini pengalamannya. Both academic professionally Gio di IT ya. Nah, bahkan sampai kanak-kanak saja sudah jalan setahun, Gio Fani masih kerja sebagai senior support analyst di Mobi. Nah, jadi saudara, apa sih yang meyakini diri mau pindah karir dan meninggalkan dunia korporat?

Giovanni: Ini ah sebenarnya ini this is not like my first change Jadi dulu itu sempat ah lepas bachelor itu aku ambil Media and communication. Which is totally different from IT [00:16:00] Dan akhirnya banting setir, uh kerana satu dan lain hal, ke IT. um So, jumping into the ship juga bukan sesuatu yang apa ya, shocking in the sense lah.

uh Kerana di IT pun uh to be honest aku ambil IT buat dapat residency di sini. Terus habis itu kerja, ya kerja ya because Gelar aku dapatnya di sana. Dapat kerjaan. uh as we go on. Cuma dari dulu memang sudah pemikiran ingin membuka sesuatu. Tapi nggak tahu apa gitu. Ya, in a sense sense. um dan ada opportunity ini di FNB dan thankfully juga ada family-family yang support gitu.

So I think that helped with the change. uh untuk bisa take the step forward begitu. jujur, takut banget. Pas lagi mahu uh cabut dari apa resign dari pekerjaan itu, takut [00:17:00] banget. Especially kayak um financial lagi mana, ah nanti ke depannya bakal pergi mana tapi sudah diskusi dengan isteri dan lain dan.

Mereka very supportive gitu. Oh then another thing yang aku takut itu adalah ah ini bisnis, bisnis family. Family business. Dan orang kadang selalu fikir kalau family business will be a lot easier than bisnis sama ah friends. Justeru menurutku, it’s actually a lot harder. Kerana you can’t separate family in the sense.

So you have trouble in the business, you will carry over to your family. So, itu pun juga satu hal yang aku takutin juga begitu. But thankfully apa ya, kita familinya lumayan rooted. Walaupun kita argue, discuss ke apa begitu, we still have, I guess we have one vision, one mission gitu ya. Jadi, we can go on [00:18:00] bareng-bareng dan itu pun juga yang salah satu concentration di mana aku bisa ya take this step untuk quit and fully dedicated untuk k 

Billy: kenangan.

dan Ada nggak sih titik-titik apalagi di awal gitu? Ada nggak sih titik yang di mana orang orang rasa, aduh salah. 

Giovanni: Oh, ada. Pasti ada. Pasti ada.

expected lah. Kayak, karena aku itu, PAS kita decide untuk trade as kenangan full day gitu. Dari pertama kita sudah wah confident pasti bisa, pasti bisa. But again apapun yang new pasti takes time. Dan itu pas pertama kali kita tradeful day itu, ya siang sepi. Benar-benar sepi. Malam ini masih ramai per usual gitu.

Siangan sepi. Aku fikir, aduh. Apakah ini jalan yang benar ya? um. Terus juga [00:19:00] pas apa ya, pasti kita pas sudah masuk ini, punya plan-plan tersendirilah ya. Oh, I wanna execute this, I want to execute that gitu. Dan it’s harder than expected gitu. Especially when sudah working full time in store gitu. Dulu pas kerja IT itu, kan kadang ada down time nya.

Aku bisa rajin ke tangan, all the admin staff K I’m more in charge of branding dan marketing gitu-gitu kan. Aku bisa kerja ini itu. Tapi kalau misal sudah kerja di store kan aku nggak bisa gitu kan I’ll be full time there. ah Kecuali kalau sepi. Kalau sepi aku bisa. Ya, jadi itu yang aku berfikir siapa yang salah, aku malah nggak bisa actually do something untuk expand the business jadinya gitu.

So, that was hard. Tapi ya maksudnya it’s we just need to adapt I guess. After adapting one, two, three months. And it’s all good again. Bis as usual again gitu. Semua bisa. 

Billy: Memang dari suara ups and downs. [00:20:00] Benar-benar yang daun saya itu d- diuji banget. And another thing. Ini gue juga sempat marah ketemu ini.

Lu dulu punya Youtube channel.

Nos ordinary self. ketemu ah ini benar. sama ini mukanya. Ya. Dan di situ kan, video-video dulu ya ada beberapa ya. Tapi at least half of them uh food blogging food review gitu. Kadang kayaknya your latest update di situ you be instan atau apa gitu ya. Nah, itu. Was itu was that subconsciously yang dari dulu memang sudah ada minat ke dunia makanan, dunia kuliner atau memang iseng saja gitu?

Giovanni: Itu lebih ke apa ya, itu kayak lagi zaman-zaman mencari jati diri. Jadi finally sebelum itu itu, aku ada Youtube channel juga lebih ke [00:21:00] musik. Dulu terus ke sini, itu lebih kayak apa ya? Kerana I think the big part of it is my wife. ah pas aku sudah mulai comfortable ah di kerjaan IT, she always say Apa?

Find your true passion. Which is IT is not my passion gitu. Dan aku bilang ah aku pengenin musik tapi sudah terlalu tua kayaknya. Saya sudah gak bisa gitu. Ya, I just find it gitu. Yaudah jadi I create the Youtube channel, basically just to explore Okay, bisa ngapain-ngapain sih gitu. ah dan itu dimulai itu gara-gara em Waktu aku honeymoon ke Jepang, aku bikin kayak short short ah video, responnya bagus, gitu.

Oh ya sudah coba saja. Eh ternyata Youtube juga tidak begitu bagus. Tapi mm touching on that food itu memang apa ya, I [00:22:00] think itu passion dari myself and my wife gitu. Kerana kita kalau travel itu what we look is for food. Not for scenary atau apa. Jadi, kita decide oh mau ke Jepang. Berarti location nya, kita cari makanan ini, makanan ini, makanan ini, makanan ini.

Ya, jadi aku coba saja di YouTube channel untuk explore saja di sini ada makanan apa saja sih, gitu. Terus trend dan makanan apa sih, gitu. So buat coba-coba saja. 

Billy: And does that apa apa ya? Adventure soul terhadap dunia makanan itu. Apakah does that shape your approach ke kenangan juga ini sekarang? Di mana kalian.

Ya sudah kita coba, 

Giovanni: coba saja dulu. Ya. In the sense, in a sense iya sih. Dan in a sense juga untuk lebih Apa ya, outside the box uh as in kerana kalau misalnya my brother-in-law kan memang dari dunia masakan kan. Jadi dia melihat apa yang selling. Ya, bikin itu, gitu. ah from my end, I will be saying oh, ini sudah ada di restoran [00:23:00] lain.

Kita cuba yang lain saja, gitu. Jadi that adventure side itu akhirnya bisa ke over and then dari grupnya pun juga akhirnya lebih arahnya ke situ, gitu. Oh ya, kita cuba yang ini saja yang baru ini. Cuba yang ini, yang ini gitu. Daripada kita, apa ya, kan kita tujuannya pengen ah introduce makanan-makanan Indonesia.

Tapi bukan yang itu-itu saja, gitu. Karena makanan Indonesia kan banyak banget, beragam banget, gitu. Dan I guess spirit ini bisa apa ya. Ke- ke- ke transfer ke kenangan juga gitu ya. 

Billy: Dan apa sih jadi harapannya untuk ya lu sendiri sama untuk kenangan sendiri for the next few years kita di sana. Apa sih harapannya?

Giovanni: Untuk kenangan, ya aku bilang itu kita ah I mean recently kita baru diskusi ini in the group itu. We want kenangan itu not to just stop as FNB business. Tapi kita bisa em expand lebih lagi, not just FNB gitu. Personally [00:24:00] myself aku bukan Orang FNB. FNB itu adalah my brother-in-law. And he is executing it so well.

Myself, with my background, especially from my dad itu adalah lebih ke entertainment industry gitu. Dan ya ini cuma berangan-angan ke depannya itu hopefully kita bisa membantu PPER PPEA gitu. Karena PPER sekarang kan is doing all the events. And sometimes I felt I mean I was there so pas zaman-zaman jadi student itu, ah sometimes itu I think they might need professional support.

To make the event work gitu. Dan maybe kita bisa bikin event yang Apa ya? ah so that anak-anak itu bisa enjoy saja. Anak-anak student itu bisa enjoy. ah I know Pepe punya event to help apa ya, student Tapi maybe [00:25:00] they need just entertainment saja.

Jadi

jadi kenangan. Ya, tapi ya gitu. Kay. Hopefully kita bisa bawa kayak culture Indo itu, yang pop culture juga, not just tradisional. Bisa bawa ah. Sekarang sih, everything is in my head gitu. Kita mau bikin kaya oh kenang-kenangan, which is souvenir indo. Anything to do with kenangan. Desert indoor. ah at the moment sudah ada kenangan kecil.

ah hopefully kita bisa itu, dessert Indo, kita mahu namakan kenangan manis. Jadi anything to do with that. So, the brand kenangan itu doesn’t stop. J food nanti bisa jadi entertainment bisa jadi uh souvenir, bisa jadi merchandise. Dan hopefully semua itu bisa bawa harum nama Indonesia.[00:26:00] 

Billy: Aduh, tapi I think that’s all that I have for you menurut gue memang. Menurut gua ini ini insightful menurut gue. Apalagi ke dunia kuliner bagi orang Indonesia yang buka bisnes di Melbourne gitu kan. Oh dan paling itu juga sih. Lu sebagai orang Indonesia merasa ada rintangan lebih nggak di- untuk buka bisnes di sini di sini dibanding orang lokal?

Atau mira-ja? 

Giovanni: I mean, I don’t have anyone to compare with. ah Tapi I think rintangannya ah In terms of market, I guess. um.

Maybe it’s easier to open up a cafe compared to opening up an Indonesian restaurant. Kerana lebih well received. While kalau Indonesian restoran itu something yang kita harus uh In the sense kerja keras untuk show them hey, this is a food that you can try. sense. I guess that. [00:27:00] kau fikiran di tangan lain.

Billy: Ya ada baguslah kalau itu.

Giovanni: Oh, I guess, another thing mungkin ada kepikiran. ah in terms of labour, I guess em. And for us, restoran induk, ah we tried untuk ah hire orang-orang lokal segala kayak begitu. Usually itu, Aku lebih kasihan ke mereka, kerana ah Misalnya ada orang bule begitu kan, masuk kerja di kandang, tapi merekanya itu kerjanya nggak bakal enjoy gitu.

Doesn’t fit in with the culture. Unless mereka benar-benar ada orang yang suka Indonesia, belajar Bahasa Indonesia, mungkin begitu ya. Jadi itu tantangan yang lumayan sulit juga sih. Jadi siapa yang bisa kita hire itu sebenarnya lumayan limited gitu. Karena kita akhirnya, akhirnya jadi orang Indonesia juga.

Kalau enggak [00:28:00] kasihan sama orang-orang itu. kita mau hire orang Korea atau apa kayak gitu. I I just felt bad gitu. Karena when we have like team gathering atau apa. They will definitely be left out kerana ada joke-joke Indo yang mereka nggak bisa dapat uh dapatin uh bahasanya juga kerana dengan tendensi kita pasti kita tendensi bakal ngomong Bahasa Indonesia gitu ya.

Walaupun kita try hard untuk ngomong Bahasa Inggeris pasti ada selipan Bahasa Induk. like okay, I’m not in this group gitu. So itu I think quite a big challenge in terms of that.

Empat tiga. 

Billy: Okay, ya. Thank you, thank you Soalnya gue juga pengen banyak ngomong sama Indonesian business apalagi yang di segi FMB memang pengen. Pelajar lebih banyak tentang dunia gastro diplomasi makanan Indonesia di Melbourne juga sebenarnya ini. Ada lima saat kemarin [00:29:00] Pak Jong ngomong ada lima puluh satu restoran Indonesia di Melbourne di Victoria, gitu.

Itu kan lumayan gitu. itu nya juga sekian ribu orang gitu loh, ya kan pasti. Sebenarnya dunia gastro diplomasi seperti apa sih dan gua sekarang gua ngerti di mana kenangan uh berperang di dunia situ. So thank you for your time Gua menghargai banget dan lu tahu sendiri selama beberapa tahun terakhir gua penggemar bersara kenangan.

Selalu bebek sama terasi.

The views and opinions expressed in this article are those of the authors and interviewees and do not necessarily reflect the official policy or position of The Perantau Podcast or its editorial team. Any content provided by our contributors is of their own views and is not intended to malign any religion, ethnic group, organisation, company, or individual.

S3E1. Indonesian speech therapist talks about working at Australia's best children's hospital | Sabrina Suwandi The Perantau Podcast

  1. S3E1. Indonesian speech therapist talks about working at Australia's best children's hospital | Sabrina Suwandi
  2. S2E18. How an Indonesian became a Melbourne food content creator with Jane Vieren
  3. S2E17. Rethinking Waste and Community in Indonesia with Alfin Nurul Firdaus