Description
For many Chinese-Indonesians living overseas, Lunar New Year isn’t just a tradition – it’s a special way to stay connected to their roots. Even far from home, the locally-known Imlek or Sincia is all about honouring cultural values, keeping family traditions alive, and building a sense of community with fellow Indonesians abroad. But for younger generations, keeping that connection can be tricky. Now parents play a huge role, depending on how they use Bahasa Indonesia at home and encouraging their kids to embrace cultural practices.
Siauw Tiong Djin has spanned his professional career in communications engineering and moved to Australia from Indonesia in 1975. Though beyond that, he’s also a passionate activist for Indonesian Chinese politics and identity, a passion driven by his own family history. So how does Australia’s Indonesian diaspora celebrate Lunar New Year? And does it differ between generations?
Siauw Tiong Djin joins Billy Adison Aditijanto on The Perantau Podcast about what it’s like celebrating Imlek in Australia, exploring the traditions, how they bring people together in a foreign land, and the challenges younger Chinese-Indonesians face when it comes to finding and holding onto their identity.
This episode is predominantly delivered in Bahasa Indonesia.
Transcript
[00:00:00] Billy: Hey everyone. I’m Billy and welcome back to The Perantau Podcast Di mana kita ngomongin perantau di Australia itu ngapain aja sih? Nah, bagi semua yang sudah mengikuti sejak tahun lalu, welcome back dan berterima kasih. Buat penonton baru, selamat datang. Jadi dengan kerasa saya sekarang sudah 2025 sudah tahun baru, jadi buat episode pertama tahun ini, gua berengin sama tahun baru Imlek atau Sincia.
[00:00:27] Billy: Nah, jadi bagi para perantau yang menjadi pertanian, justru Pada gimana sih orang Indonesia di luar negeri merain Imlek gitu. Nah, untungnya kali ini gua kedatangan Siauw Tiong Djin. Pak Tiong Djin ini sudah di Australia sejak tahun tujuh puluhan. Walaupun di dunia profesionalnya, di dunia karir yang kerja di bidang telekom dan engineering, dari dulu dia berjuang di aktivisme bagi identitas Indonesia Tionghoa atau Indonesian Chinese.
[00:00:49] Billy: Sampai sekarang pun bahkan baru tahun lalu dia dan teman-temannya mendirikan FAKTA. Forum Aktual kekerabatan Tionghoa di Australia. Jadi di episode kali ini, gua bertanya-tanya tentang apa makna dan sejarah Imlek [00:01:00] bagi orang Indonesia. Apa maknanya Imlek bagi para perantau Indonesia di Australia dan bagaimana identitas Indonesian Chinese bagi yang sejak lahir sudah di luar negeri.
[00:01:08] Billy: Jadi enggak usah lama-lama lagi, mari kita persilakan Pak Tiong Djin. Okay, kalau begitu, ya, mungkin sebelum kita mulai, aku mau berterima kasih Pak, dan menuangkan waktu di sore hari begini, untung lagi cerah, lagi enak, dan kalau begitu usah lama-lama lagi, cuma aku pengen tanya dulu ini. Dalam satu kata, kata apa yang bisa menggambarkan hubungan Pak Tiong Djin dengan Indonesia?
[00:01:33] Siauw Tiong Djin: Oh kalau satu kata ya, saya adalah orang Indonesia.
[00:01:40] Billy: Jadi
[00:01:40] Siauw Tiong Djin: saya mencintai Indonesia sebagai tanah air, walaupun saya sudah menjadi warganegara Australia. Sudah lama menjadi warganegara Australia, tetapi saya punya jiwa masih Indonesia.
[00:01:54] Billy: Sebenarnya itu apa saya mendorong mau [00:02:00] melepas pasport Indonesia
[00:02:04] Siauw Tiong Djin: itu hanya pertimbangan saya bekerja di sini
[00:02:09] Siauw Tiong Djin: sering keluar negeri dengan tugas kantor pada waktu itu saya menjadi Australia. Jadi sering sekali keluar negeri, ke Eropah, ke Amerika, ke Jepang tentunya, dan untuk berkeluaran begitu menggunakan pasport Australia jauh lebih mudah. dari pasport Indonesia. dan dengan demikian juga apa, pertimbangan praktisnya sudahlah kita tanggalkan saja pasport Indonesia.
[00:02:40] Siauw Tiong Djin: Toh saya juga menetap dan tinggal di sini, dan kalau pulang ke Indonesia juga tidak sulit dengan pasport Australia. Belum ada pada waktu itu belum ada minat untuk tinggal kembali ke Indonesia untuk hidup di sana untuk jangka panjang.
[00:02:55] Billy: Sekarang ada penyesalan atau penyesalan sebenarnya tidak ada saya tetap menetap di sini,[00:03:00]
[00:03:10] Siauw Tiong Djin: walaupun masih sering pulang ke Indonesia.
[00:03:14] Billy: Jadi ngomongin asal-mual juga. Boleh cerita perjalanan bapak dari Indonesia tahun sembilan belas tujuh puluhan. Mana sih pengalaman awal itu membentuk jalur karya bapak di satu sisi yang dalam bidang engineering, tapi sekaligus juga memicu ketertarikan pada aktivisme politik.
[00:03:34] Siauw Tiong Djin: Kalau yang pertama gampang ya, jadi memang dari SMP saya sudah hobi main elektronik. Jadi, apa, bikin-bikin radio zaman dulu itu sering rakit ya, radio amplifier, transmiter dengan sendirinya, jadi memang mempunyai keinginan untuk belajar di bidang itu, bidang elektronik. [00:04:00] Jadi itu mudah, jadi saya sudah dari umur belasan sudah tahu bahawa saya kepingin menjadi seorang insinyur elektronik.
[00:04:09] Siauw Tiong Djin: di sini saya lihat ketertarikan saya itu lebih menjurus ke bidang komunikasi. Kalau komunikasi juga lebih menjurus lagi ke bidang satelit. Jadi itu yang saya tekuni pada waktu saya belajar teknik dan begitu saya selesai di bidang itu, saya bekerja di bidang telekomunikasi, microwave communication lalu pindah menjadi satellite engineer dan itulah karir saya di bidang teknik.
[00:04:41] Siauw Tiong Djin: Nah kalau tentang keindonesiaan. itu mempunyai latar belakang politik. Jadi saya lahir di keluarga yang sangat tinggi, kadar politiknya. Jadi ayah saya adalah seorang politikus, seorang [00:05:00] parlamenter, seorang ketua organisasi massa yang cukup besar. menjadi salah satu tokohlah ya di bidang
[00:05:09] Siauw Tiong Djin: politik di Indonesia. dan kebetulan,
[00:05:16] Siauw Tiong Djin: saya tubuh di dalam suasana yang sangat politik di rumah. Jadi ketertarikan saya dalam bidang politik itu memang tumbuh juga dari kecil. dan kerana ayah saya berada di dalam kubu politik yang salah, dalam pengertian salah itu dalam pengertian sejarah ya, tidak sesuai dengan jalur politik penguasa pada tahun enam puluh lima, beliau ditahan sampai tahun tujuh puluh lapan.
[00:05:51] Siauw Tiong Djin: Jadi pada waktu saya berangkat dari Indonesia pada tahun tujuh puluh tiga akhir, beliau masih di [00:06:00] penjara dan pesan terakhir pada waktu saya berperlukan untuk berpisah di penjara. untuk pamit untuk pergi ke Australia atau datang ke Australia. Pesan terakhirnya hanya satu saja pula. Ingat Djin adalah orang Indonesia, dan itu yang terus menjadi pegangan saya sampai sekarang.
[00:06:21] Siauw Tiong Djin: Jadi, menjadi orang Indonesia tentunya harus mengetahui dan mengikuti semua perkembangan yang ada di Indonesia, menghayati perkembangan sejarah, menghayati perkembangan politik dan kebudayaan Indonesia, dan itu yang saya lakukan selama hidup di Australia.
[00:06:43] Billy: Itu ada alasannya kenapa memilih untuk Australia?
[00:06:47] Siauw Tiong Djin: Oh, lagi-lagi pertimbangan praktis sa, paman saya sudah ada di sini. Jadi saya mendapat biasiswa keluarga.
[00:06:59] Siauw Tiong Djin: Jadi keluarga saya [00:07:00] tidak mampu untuk mengirim saya ke sini tentunya, tapi fahaman saya berbaik hati untuk membayar semua orang sekolah, yang tinggal, saya tinggal dengan mereka. sehingga saya bisa menyelesaikan studi saya, Ya, katakanlah biasiswa keluarga.
[00:07:19] Billy: terus sejak sampai dua itu di tahun sembilan belas tujuh puluh tiga.
[00:07:24] Billy: Bagaimana perkembangan identitas bapa sebagai orang Indonesia, Tong Hua?
[00:07:29] Siauw Tiong Djin: Perkembangannya dalam bentuk
[00:07:35] Siauw Tiong Djin: perkembangan sosial begitu ya.
[00:07:39] Siauw Tiong Djin: Pada waktu itu, Orang Indonesia di Australia itu masih Bisa dikatakan jarang, jadi kalau di sekolah bisnya. uh sebagai orang Indonesia, banyak orang Malaysia, banyak orang Hong [00:08:00] Kong, tapi orang Indonesia itu jarang. Jadi, itu yang pertama, yang jelas sekali. Jadi kalau ketemu orang Indonesia di jalanan atau di toko atau di restoran atau di pasar begitu ya, kita tentunya sangat gembira.
[00:08:17] Siauw Tiong Djin: mendapatkan. Jadi identitas keindonesiaan sebagai orang Tionghoa juga, itu sangat sangat sangat menentukan. Jadi jelas sekali kalau kita bertemu dengan sesama Indonesia itu sangat menggembirakan. itu berkembang terus tentunya. Jadi apalagi dengan komitmen saya untuk terus menjiwai Indonesia. Jadi, bagi saya tidak ada masalah identitas, saya tetap menganggap diri saya sebagai orang Indonesia, belajar di Australia, bergaul dengan teman-teman Indonesia dan teman-teman Asia [00:09:00] lainnya.
[00:09:00] Siauw Tiong Djin: Kebetulan saya aktif di kegiatan apa organisasi mahasiswa, saya menjadi ketua overseas student service namanya dulu, menjadi ketua Asian Food Club, menjadi ketua Asian Student Association, menjadi ketua PPE, jadi kegiatan-kegiatan itu memperkuat identitas saya sebagai orang Asia, seorang Indonesia yang ada di Australia.
[00:09:28] Billy: dan banyak orang juga yang orang Indonesia di sini yang mereka juga jadi mempertanyakan. ketika mereka membilang, ketika mereka mengatakan mereka itu siapa gitu, Indonesian misalnya. Tapi sebenarnya, apa sih, sedangkan dengan itu dari tahun sembilan belas tujuh puluh, lapan puluh, sembilan puluh, sampai sekarang dua ribu dua empat, dua ribu dua lima, itu kan identitas yang namanya orang Indonesia juga berubah, begitu kan, baik dari sosial, politik maupun dari segi cultural [00:10:00] background juga.
[00:10:00] Billy: Jadi sebenarnya, kalau dari sudut pandang bapa sendiri misalnya, itu sebenarnya apa sih yang menggambarkan orang Indonesia itu?
[00:10:07] Siauw Tiong Djin: Saya kira abang itu satu perkembangan sejarah juga ya, di mana Tionghoa di Indonesia itu pernah mengalami berbagai macam perlakuan yang bersandar atas diskriminasi rasial. Jadi itu merupakan warisan dari zaman penjajahan Belanda ya, begitu, dan terus-menerus berada sampai sekarang, walaupun skalanya mungkin berbeda.
[00:10:37] Siauw Tiong Djin: Di zaman saya masih cukup banyak trauma, trauma
[00:10:44] Siauw Tiong Djin: tentunya bagi keluarga saya trauma dari kejadian gerakan yang dinamakan gerakan tiga puluh September, di mana orang-orang Gi itu menjadi korban ya, dibantai, dipersekusi, dimasukkan [00:11:00] penjara dan secara massal secara sistematis oleh pemerintah dijadikan golongan atau komunitas yang berbahaya. Jadi trauma itu ada ya, sebagai kelompok kiri.
[00:11:19] Siauw Tiong Djin: Lalu, sebagai orang Tionghua, kena juga kan, jadi kami diperlakukan sebagai orang Tionghoa yang pada awal rezim yang dinamakan rezim Orde Baru itu, dari tahun enam puluh enam sampai tahun enam puluh sembilan tahun tujuh puluhan, itu sangat jelas bahawa orang-orang Tionghua itu dianggap dekat dengan Tiongkok, dekat dengan komunisme, jadi timbul juga tekanan-tekanan dalam hal itu,
[00:11:57] Siauw Tiong Djin: dan disk diskriminasi rasial dalam bentuk [00:12:00] yang sistematik. Itu berlangsung. pelarangan penggunaan bahasa Tionghoa di surat khabar, nama-nama Mandarin di tokoh-tokoh di pelang-pelang tokoh itu ditiadakan. Apakah bahan-bahan dokumentasi yang bersifat Mandarin Tionghua tidak diizinkan. Bahkan sampai tahun sembilan puluhan ya, akhir sembilan sembilan puluhan, kalau masuk ke Indonesia itu dalam mengisi dokumentasi untuk imigrasi.
[00:12:36] Siauw Tiong Djin: masih ada dinyatakan bahawa barang dokumentasi yang bersifatnya mengandung huruf Tionghoa dilarang. Barongsai dilarang, Liang Long dilarang. ritual Tionghoa di tempat-tempat umum dilarang, perayaan Imlek di tempat umum dilarang. [00:13:00] Itu semua berlangsung pada waktu saya jadi remaja tumbuh di Indonesia. nama Tionghua dianggap tidak cocok, harus diganti dengan nama yang non Tionghua.
[00:13:13] Siauw Tiong Djin: Itu semua berlangsung. ah jadi, bagi orang-orang yang tumbuh di zaman itu tentunya timbul trauma. generasi muda sejak tahun sembilan puluh lapan, sejak reformasi dimulai, itu mulai merasakan pelbagai perkembangan-perkembangan positif yang tentunya mempengaruhi mindset mereka. Jadi sejak reformasi banyak orang-orang Tionghua berkecimpung di dalam bidang politik misalnya.
[00:13:54] Siauw Tiong Djin: lalu kemudian organisasi-organisasi Tionghoa yang tadinya [00:14:00] dilarang bisa bertumbuh, berkembang dan tumbuh di berbagai bentuk. Bahkan pada satu saat saya kira di akhir sembilan puluhan awal dua ribuan begitu, ada kecenderungan penggunaan bahasa Mandarin itu menjadi sebagai sesuatu yang spesial.
[00:14:22] Siauw Tiong Djin: rapat-rapat pidato-pidato di dalam organisasi-organisasi Tionghoa sering dilakukan di dalam bahasa Mandarin. Dan itu berkembang terus ya sampai sekarang. Jadi, apalagi dengan kekuatan Tiongkok sebagai negara super power, tidak sedikit orang-orang Indonesia yang mengirim anak-anaknya untuk ke Tiongkok untuk belajar.
[00:14:50] Siauw Tiong Djin: Walaupun mereka lulus dari Amerika, Australia, dari Kanada, itu setelah selesai studinya di tempat-tempat [00:15:00] itu, mereka dikirim. ke Tiongkok untuk belajar bahasa Mandarin. selama satu tahun dan dua tahun. Dan itu ternyata menjadi sesuatu sesuatu bekal yang luar biasa sekarang, dengan dengan timbulnya perkembangan di mana perusahaan-perusahaan besar Tiongkok berkembang di Indonesia.
[00:15:21] Siauw Tiong Djin: berbicara kemampuan untuk berbahasa Mandarin itu menjadi sangat penting. dan hubungan Tiongkok dan Indonesia pun semakin membaik, apalagi setelah Jokowi, Jokowi tentunya membuka pintu kepada semua sektor yang memungkinkan perusahaan-perusahaan raksasa Tiong Tiongkok untuk berpartisipasi. Jadi itu semua tentunya mempengaruhi posisi Tionghua yang di Indonesia.
[00:15:53] Siauw Tiong Djin: Jadi, tetapi bagi saya, itu tidak menghilangkan [00:16:00] benih-benih rasisme yang akan satu saat bisa meledak lagi dan menimbulkan ledakan rasisme yang
[00:16:12] Siauw Tiong Djin: skalanya mungkin sama dengan apa yang pernah dialami di Indonesia, misalnya pada Mei sembilan dua lapan.
[00:16:20] Billy: Itu tadi kerana terkait menyinggung bahasa. So menurut aku, lucunya itu Mandarin atau China
[00:16:34] Billy: standardized Chinese. Tapi itu baru dilahirkan sebagai sebuah standardized of language ketika itu belakangan lagi. Dan itu baru-baru di mana di mana diaspora Tiong yang ke Indonesia generasi-generasi sebelumnya, mereka ada mungkin mereka ke Indonesia dengan bawa bahasa Hakka atau Kantis atau bahasa-bahasa lainnya gitu.
[00:16:58] Billy: Jadi, [00:17:00] dan yang aku lihat juga bagi diaspora Tionghoa yang ke Indonesia yang belakangan lagi, mungkin sekitar sembilan puluhan, dua ribuan. Mereka ke Indonesia di mana itu juga mempengaruhi yang namanya untuk mendekati Tionghoa Indonesia dengan Tionghoa itu dengan berbicara dengan bahasa Mandarin. Jadi sebenarnya ada kesenjangan tidak sih antara generasi Indonesia Tong H yang lebih tua dan Indonesia Tong H yang lebih muda dari segi bahasa?
[00:17:29] Siauw Tiong Djin: Itu Sesuatu yang wajar ya, saya kira. Jadi bahasa itu kan merupakan medium. dan medium itu kalau dipergunakan di sekolah secara besar-besaran di universitas sekolah dan dunia pekerjaan dunia dagang Dengan sendirinya, bahasa yang dipakai itu merupakan patokan. di Indonesia, di Tiongkok mempunyai satu dilema yang sama.
[00:17:59] Siauw Tiong Djin: [00:18:00] Jadi generasi muda, yang di Tiongkok begitu ya, hampir tidak mengenal lagi bahasa dialek mereka. Kadang yang dipergunakan sehari-hari di sekolah, di universitas, di dunia pekerjaan, di dunia dagang adalah Mandarin, ya, jadi. Jadi ada kekhuatiran dari negara sekarang bahawa dialek mereka akan Cantonese atau begitu ya, Hogan, bahasa-bahasa mereka itu hilang.
[00:18:31] Siauw Tiong Djin: Demikian juga di Indonesia, di Indonesia itu dengan adanya bahasa persatuan Indonesia, generasi muda, pelan-pelan juga menghilangkan kebiasaan berbicara dalam bahasa daerah. jadi bahasa Jawa, bahasa Sunda, itu kadang-kadang hilang di generasi muda, kerana terbiasa dengan menggunakan bahasa yang namanya Bahasa Indonesia yang dikatakan sebagai bahasa formal begitu.[00:19:00]
[00:19:00] Billy: Terus tadi balik lagi ke yang tadi sempat menyinggung apa, bisa saja ada potensi rasmi itu membeludak lagi. Entah apa alasannya. Dan itu kira-kira kalau ya pun begitu. Kan misalnya terjadi di Indonesia itu. Bagaimana kira-kira bagaimana itu kira-kira bisa merambat ke diaspora Indonesia yang ada di Australia juga, misalnya.
[00:19:27] Siauw Tiong Djin: meramat dalam bentuk ledakan rasisme. Saya kira tidak di negara seperti Australia tentunya rasisme itu kan di di dinyatakan sebagai sesuatu yang melanggar hukum. Sebentarnya Indonesia juga begitu. Indonesia sebenarnya yang namanya diskriminasi dengan adanya undang-undang diskriminasi tahun dua ribu delapan kalau tidak salah, itu sebenarnya sudah sudah dinyatakan sebagai sesuatu yang melanggar hukum, tapi namanya Indonesia.[00:20:00]
[00:20:02] Siauw Tiong Djin: Saya kira yang perlu diamati oleh generasi muda terutama. itu mesti dipelajari dasar-dasar apa atau faktor-faktor apa yang menjadi sumber dari ledakan rasisme. Jadi misalnya sekarang ini ada ada banyak pembicaraan mengenai dua di mana Aan dinyatakan sebagai seorang yang terlalu serakah dalam bertindak mengambil alih.
[00:20:41] Siauw Tiong Djin: dan hal-hal seperti itu memang bisa menimbulkan perkembangan negatif yang merugikan komunitas Tionghua di Indonesia. Jadi memang dekat dengan penguasa lalu bertindak dalam hal yang kurang bijaksana, [00:21:00] terutama dalam perkembangan usahanya, apalagi kalau itu mengandung pengusiran atau penindasan terhadap masyarakat yang tinggal di sana atau masyarakat luas, itu bisa menimbulkan reaksi negatif dan reaksi negatif itu memang mudah untuk diarahkan ke Tionghoa, apalagi kalau yang bersangkutan itu orang Tionghoa.
[00:21:29] Billy: Intinya bisa dikambing hitamkan dengan gampanglah. Lebih gampang.
[00:21:36] Billy: Nah, kalau untuk anak muda Indonesia Tionghoa yang ada di negeri sekarang. Masa antara mereka yang lahir di Indonesia kemudian keluar negeri untuk kuliah misalnya. Ataupun bisa juga yang orang tuanya Tionghoa Indonesia tapi ke luar negeri dan mereka tapi dengan latar belakang Chinese Indonesian.
[00:21:56] Billy: bagi mereka yang sendiri lihat di Australia selama ini. [00:22:00] Apakah identitas itu berarti bagi mereka, apakah bahawa ini itu cultural heritage saya sebagai Chinese Indonesia atau mereka melihatnya hanya saya Indonesia saja, atau bahkan mereka, orang Australi
[00:22:17] Siauw Tiong Djin: itu lagi-lagi merupakan perkembangan yang wajar, tidak bisa dipaksakan.
[00:22:23] Siauw Tiong Djin: Anak-anak yang lahir di sini lalu sekolah di sini, apalagi mereka yang jarang menggunakan Bahasa Indonesia atau berkomunikasi
[00:22:37] Siauw Tiong Djin: dalam Bahasa Indonesia. Apalagi kalau mereka jarang pulang ke Indonesia, dengan sendirinya akan hilang. apa, kecintaan mereka atau kesadaran mereka bahawa mereka itu adalah keturunan Indonesia. Apakah Indonesia, Indonesia saja [00:23:00] atau Indonesia Tionghoa? Nah itu tergantung orang tuanya, saya kira. Kalau orang tuanya giat untuk pulang ke Indonesia, giat menggunakan Bahasa Indonesia di rumah, giat mendorong anak-anak itu untuk mengikuti kebudayaan Indonesia mengajak mereka ke acara-acara tujuh belas Agustus.
[00:23:24] Siauw Tiong Djin: sering berkumpul dengan teman-teman yang datang dari Indonesia, itu tentunya mempunyai pengaruh yang sangat besar dari perkembangannya.
[00:23:34] Billy: so far kita kadang okay, itu berarti tergantung orang tua, tapi sendiri, apakah ada trend yang lebih condong ke satu atau yang lain masalah antara apakah lebih condong ke, ya sudah kamu di sini, kamu orang Australia lah, ditanya, oh ya, latar belakang kamu, Indonesia doang.
[00:23:53] Billy: Ataukah lebih condong, ya kamu Chinese Indonesian, ini keluarga kita.
[00:23:58] Siauw Tiong Djin: Itu nanti, saya [00:24:00] kira lagi-lagi harus berkembang secara wajar ya. Jadi di saat-saat tertentu, saya kira pada waktu mereka mulai berumur tiga puluhan, tiga puluh lima, begitu ya, mungkin mulai sadar sebenarnya gua ini orang Indonesia, mungkin di situlah mereka mulai mencari identitas mereka kembali.
[00:24:20] Siauw Tiong Djin: Tapi kalau seandainya dari pihak keluarga dan mereka itu tumbuh sebagai seorang Australi, jadi jarang berkumpul dengan keluarga Indonesia, jarang ke Indonesia, jarang kecuali makan-makanan Indonesia, tapi jarang berkaitan atau berinteraksi dengan kebudayaan Indonesia, saya kira dengan secara wajar mereka akan merasa dirinya lebih
[00:24:50] Siauw Tiong Djin: Australi dari Indonesia, itu merupakan hal yang wajar.
[00:24:56] Billy: Nah sekarang kalau kita ngomongin Imlek ini. Apalagi [00:25:00] terutama meraikan Imlek di luar negeri bagi orang Indonesia di luar negeri, contohnya di Australia. Nah, itu merayakan Imlek itu sebenarnya apa sih cultural value nya, apakah itu kita merain cuma karena orang tua kita merain, kita ikutan dia orang dan menjadi turun-temurun,
[00:25:17] Billy: ataukah itu sebenarnya ada arti yang lebih dalam. Masa dalam arti, tapi Ya, jadi apakah ada yang lebih dahulu itu di satu sisi. Tapi di sisi yang lain, Sebenarnya itu perayaan Imlek bagi Chinese Indonesian di luar negeri. Sebenarnya itu mendekatkan kita sebagai untuk identitas sebagai Chinese Indonesian atau mendekatkan kita dengan komunitas Indonesia yang lainnya, atau mungkin mendekatkan kita dengan komunitas Tionghoa yang bukan Indonesia juga.
[00:25:48] Siauw Tiong Djin: Ada berbagai segi yang kita bisa lihat.
[00:25:55] Siauw Tiong Djin: IBlack itu sebenarnya merupakan sebuah [00:26:00] hal yang lagi-lagi mengandung konotasi politik. Orang-orang Indonesia. Tiong Hua. Politik kenapa? Kerana seperti yang saya gambarkan tadi, pernah selama tiga puluh dua tahun Imlek itu dilarang,
[00:26:19] Siauw Tiong Djin: tidak boleh dirayakan di depan umum. Jadi baru bisa dirayakan depan umum pada waktu Gus Dur menjadi presiden, bahkan pada waktu Megawati menjadi presiden dijadikan hari raya Nasional. Jadi baru Baru ya kira-kira tiga puluh tahun yang terakhir ini dua puluh lima tahun terakhir inilah komunitas Tionghoa Indonesia bisa merayakan Imlek secara terang-terangan
[00:26:59] Siauw Tiong Djin: dan ikut merasakan hari raya nasional. Selat perayaan Imlek secara terbuka ya, kalau dibilang dua puluh [00:27:00] lima tahun masih baru. Jadi untuk orang Indonesia, orang Tionghoa Indonesia, perayaan yang bisa dirayakan dengan kegembiraan yang terbuka, Itu baru dua puluh lima tahunan kira-kira. Nah, di Australia tentunya tidak ada masalah itu.
[00:27:16] Siauw Tiong Djin: Jadi orang-orang Tionghoa yang ada di sini, Indonesia Tiong yang ada di sini, yang tinggal di sini, seperti saya itu merupakan hari raya, sebenarnya di sini tidak dijadikan hari raya, tapi kerap yang Tionghoa di sini mengambil libur, pada hari itu. Tapi kalau dikaitkan dengan Indonesia tentera mempunyai makna politik.
[00:27:40] Siauw Tiong Djin: Untuk yang di sini, saya kira timbul berbagai cultural marriages ya, dengan pengertian orang-orang Tionghua yang berasal dari Malaysia, dari Hong Kong, dari Tiongkok sendiri, itu [00:28:00] merupakan hal yang berbeda, cara mereka merayakan juga agak berbeda ya kan. apalagi yang masih mempunyai hubungan kuat dengan kebudayaan Tiongkok, terutama yang masih beragama,
[00:28:19] Siauw Tiong Djin: atau atau Buddha ada segi-segi perayaan ritual yang berbeda dengan yang dari Indonesia, dari Indonesia ini ada dua kelompok tentunya, ada kelompok yang dinamakan kelompok peranakan, ada kelompok yang namanya kelompok. Lagi-lagi ada perbedaan lagi dari segi perayaan Imlek. Tapi yang tentunya kebudayaan pertama iaitu memberi angpau, itu saya kira sama ya.
[00:28:51] Siauw Tiong Djin: Tapi dalam banyak hal, ada perbedaan-perbedaan tertentu.
[00:28:56] Billy: Nah, sekarang kalau kita ngomongin sendiri, saya [00:29:00] balik lagi ke,
[00:29:05] Billy: dan dia memperjuangkan hak untuk Tionghoa Indonesia dulu ya. Apalagi tahun enam puluh tujuh puluhan di mana dia di penjara, dan selama itu balik lagi ke keluarga memang dari dulu aktivisme dan dunia politik itu sudah kental di keluarga, kan. Apalagi untuk memperjuangkan hak Tiong Hoe Indonesia di Indonesia dari dulu.
[00:29:31] Billy: Jadi sebenarnya, Bagaimana, bagaimana sih? Apakah ada lesson yang dibawa oleh bapak sampai sekarang. Misalkan tadi ada satu hal yang jangan pernah lupakan di Indonesia. Itu satu. Tapi mungkin apakah ada yang di satu sisi itu yang lebih ke kenapa bapak sampai sekarang masih terus beraktivisme, mengadakan misalkan contoh ada fakta kalau gak salah ya, forum
[00:29:56] Siauw Tiong Djin: aktual kekerabatan [00:30:00]
[00:30:00] Billy: Tiong dan itu juga baru beberapa bulan terakhir.
[00:30:02] Billy: Itu masih lumayan baru begitu. Jadi, apa sih sebenarnya yang mendorong bapak sampai sekarang, yang untuk terus mungkin mungkin perjuangan tidak selevel bapak dan bapak dulu ya, tapi walaupun, tapi itu juga tetap sangat dihargai kerana perjuangan identitas Tiong Ho Indonesia di luar negeri, sebenarnya kalau tidak mau, sebenarnya tidak ada yang menuntut gitu kan.
[00:30:27] Billy: Tapi masa dengan sendiri mau. Jadi sebenarnya apa sih dari dulu yang dibawa?
[00:30:31] Siauw Tiong Djin: Saya kira dasarnya adalah obsesi untuk membersihkan nama ayah saya, dan juga dalam memperjuangkan pengertian bahawa Chan dan organisasinya yang dinamakan itu tidak bersalah dan bahkan sebenarnya berjasa di dalam sejarah Indonesia.
[00:30:56] Siauw Tiong Djin: dengan sendirinya saya harus mempelajari [00:31:00] political journey dari dan esensi dari kehadiran di dalam sejarah. yang saya pelajari sebenarnya pertama, Saya lihat Siapapun atau komunitas terutama kalau ingin mendapatkan perbaikan. untuk komunitas sendiri. komunitas itu sendiri, itu harus berjuang, tidak bisa menunggu orang lain untuk memperjuangkan hak mereka.
[00:31:33] Siauw Tiong Djin: Itu pertama dan perjuangan itu harus dalam bentuk kegiatan politik. Jadi misalnya, banyak orang tidak tahu atau sadar sekarang bahawa kewarganegaraan Indonesia yang dimiliki oleh sebahagian terbesar orang Tionghoa Indonesia. Itu merupakan hasil perjuangan, hasil perjuangan BPK pada tahun sembilan belas lima [00:32:00] puluhan.
[00:32:01] Siauw Tiong Djin: Tanpa BEI, Katakanlah ya, tanpa pimpinan pada waktu itu yang paling aktif dalam memperjuangkan itu di parlimen. Pada waktu itu Parlimen mempunyai apa? kekuatan politik khusus ya kerana memang pada tahun lima puluhan itu Indonesia menggunakan sistem yang namanya sistem parlementer, di mana parlamenter, parlemen yang mempunyai kekuasaan politik.
[00:32:30] Siauw Tiong Djin: tanpa perjuangan mereka itu, banyak sekali sebahagian terbesar orang Indonesia itu kehilangan kewarganegaraan Indonesia. Jadi itu pertama, saya kira. Lalu kedua, Satu hal lagi yang sangat menonjol saya kira dari perjuangan mereka itu
[00:32:52] Siauw Tiong Djin: adalah mendorong Komunitas Tionghoa di Indonesia untuk menerima Indonesia sebagai tanah [00:33:00] airnya. Lagi-lagi kalau tidak ada perjuangan khusus dari mereka. Bisa-bisa komunitas Indonesia itu memang tidak lagi merasa menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
[00:33:15] Billy: Apakah mereka yang generasi yang lebih muda, yang lebih sekarang?
[00:33:17] Billy: Apakah mereka masih merasa itu bahawa mereka tidak mereka tidak belong di Indonesia?
[00:33:23] Siauw Tiong Djin: S perkembangan itu dimulai. Jadi sesuatu yang berkembang itu harus ada bibitnya. Bibit itulah yang ditanam oleh Berki bahawa Tionghoa yang ada di Indonesia itu lahir Hidup. berkembang dan mati di Indonesia. Jadi Tionghoa bukan tanah air mereka, Indonesia adalah tanah air mereka.
[00:33:50] Siauw Tiong Djin: Bahkan lebih dari itu, ini yang ketiga ya. Jadi perkataan suku Tionghoa itu lahir dari perjuangan Berki. Jadi itu tidak hanya nongol [00:34:00] begitu sahaja, jadi pengertian bahawa Indonesia itu merupakan negara yang terdiri atau bangsa yang terdiri dari
[00:34:07] Siauw Tiong Djin: berbagai suku, salah satunya adalah suku Tionghoa itu memiliki makna yang sangat penting kerana dengan pengertian suku Tionghoa itu tidak merupakan bukan tidak bisa dipisahkan dari yang namanya bangsa atau nasional Indonesia. ketiga hal ini saya kira yang mendorong saya untuk terus mempelajari dan memperkuat pengertian itu.
[00:34:34] Siauw Tiong Djin: Dan itu menjadi saya punya, ya katakanlah obsesi atau saya punya target hidup ya, tujuan hidup untuk memperjuangkan turut melanjutkan perjuangan untuk mengisi pengertian itu, terutama untuk generasi muda. Jadi menulis memberi seminar atau berbicara seperti ini dalam sesi-sesi yang tertentu, begitu [00:35:00] ya, saya selalu gunakan untuk mendekatkan itu.
[00:35:03] Siauw Tiong Djin: dan generasi muda harus sadar bahawa itu adalah bibitnya, itu adalah dasarnya. Tanpa itu, kita tidak tahu apa yang terjadi sekarang. Bayangkan kalau sebahagian terbesar dari orang Tionghoa di Indonesia itu mempunyai kewarganegaraan asing. Entah apa yang terjadi, ya kan?
[00:35:27] Billy: Jadi bagaimana sih untuk anak muda Indonesia Tionghoa, untuk mengembangkan, itu kesadaran Indonesianya itu,
[00:35:40] Billy: di satu sisi, bahawa memang Indonesia adalah tanah air mereka, mereka dilahirkan, mereka hidup, dan mereka mati di tanah air Indonesia, begitu kan. Dan ya, jelas mereka juga paling-paling tetapi Indonesia. Jadi itu di satu sisi belonging begitu. Tapi di sisi yang lain, karena kita juga di Australia, [00:36:00] bagaimana keturunan Chinese Indonesian yang di luar negeri, misalnya di Australia, bagaimana sih, mereka bisa meningkatkan kesadaran itu?
[00:36:09] Siauw Tiong Djin: Ya, lagi-lagi ini merupakan sesuatu yang wajar ya. Jadi untuk orang Tionghoa yang ada di Indonesia, kita bicarakan di Indonesia dulu. untuk mereka bisa berpartisipasi, memberi sumbangan besar kepada Indonesia kerana merasa dirinya sebagai orang Indonesia, itu memerlukan situasi yang kondusif untuk kita.
[00:36:33] Siauw Tiong Djin: Jadi kondusif dengan pengertian tidak ada diskriminasi rasial. pemerintah juga ikut berpartisipasi secara aktif untuk menghilangkan diskriminasi rahsia. sehingga tidak ada lagi komentar-komentar negatif dari para tokoh politik bahawa Tionghua itu kaya, Tiong H itu serakah, kan, kita itu diperas [00:37:00] oleh orang Tionghoa dan sebagainya.
[00:37:02] Siauw Tiong Djin: Hal-hal seperti itu sebenarnya harus dihilangkan mulai dari sistem politik, mulai dari cara berbicara para tokoh politik. Bahkan sebenarnya sebaiknya Indonesia meniru negara-negara maju seperti Australia, Kanada, Amerika begitu yang mereka itu menghukumkan apa yang namanya multiculturalism.
[00:37:25] Siauw Tiong Djin: Multiculturalism itu sebenarnya merupakan definisi kehadiran satu bangsa di mana semua bisa berkembang
[00:37:36] Siauw Tiong Djin: tanpa menghilangkan latar belakang mereka, dan bisa berpartisipasi dalam membangun bangsa itu tanpa kekhuatiran bahwa latar belakang mereka itu dipermasalahkan. Itu yang dimaksud dengan multiculturalism. Itu dihukumkan [00:38:00] dan Indonesia belum sampai ke sana. Alangkah baiknya kalau Indonesia mengikuti bahawa yang namanya multi culturalism atau multikulturalisme atau katakanlah integrasi wajar itu ya, itu dihukumkan.
[00:38:16] Siauw Tiong Djin: Saya kira itu merupakan Satu hal yang kondusif. Nah, untuk yang di Australia, lagi-lagi saya kira itu satu hal yang berkembang secara wajar ya. tergantung daripada bagaimana para orang tua mereka itu mendidik, menuaikan keindonesiaan mereka, di anak-anaknya, di dalam pertumbuhan jiwa anak-anak itu. dan saya kira juga seringnya berinteraksi dengan Indonesia, mengikuti program-program Indonesia, mengikuti perkembangan politik Indonesia, itu tentunya akan membina keindonesiaan [00:39:00] mereka selama ada di luar negeri.
[00:39:03] Siauw Tiong Djin: Tapi tidak bisa dipaksakan. Yang penting alami sajalah ya. alami dan. dan ya, diberi sesuatu lagi-lagi yang kondusif supaya mereka mencintai Indonesia. Okay,
[00:39:17] Billy: jadi nanti Rian Imlek di mana Pak di sini? Ya makan-makan.
[00:39:23] Billy: Itu yang menyatukan orang Indonesia mau ada apa-apa. Mungkin itu kali dia jadi orang Indonesia. kalau kita kita tutup dengan Apa satu kalimat
[00:39:40] Billy: untuk bisa merangkul sesama lain.
[00:39:42] Siauw Tiong Djin: Yang pertama, apa, ya, bagi semua yang ada di Indonesia maupun di Australia, berasa menjadi orang Indonesia, mencintai Indonesia sebagai kultur, sebagai bangsa, sebagai negara, [00:40:00] saya kira itu sesuatu yang positif. yang hidup di Australia, terutama generasi muda yang sudah lahir di Australia, tumbuh di Australia, ikutilah kecintaan itu secara alami.
[00:40:16] Siauw Tiong Djin: Tidak perlu dipaksa, tetapi yang terang menjadi sesuatu yang penting, menganggap dirinya tumbuh tanpa merasa ah apa, handicap. Itu penting. Jadi, bersumbaksi tubuh pekerja menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk masyarakat setempat itu tetap diperlukan. Jadi tidak perlu memaksa dirinya wah saya orang Indonesia, saya harus pulang ke Indonesia dan sebagainya.
[00:40:56] Siauw Tiong Djin: Bisa tetap berfungsi, [00:41:00] berpartisipasi secara positif di Australia.
[00:41:04] Billy: Kalau begitu, aku berterima kasih lagi sudah menangkan waktu. Aku juga rasa obrolan kita lumayan berfaedah juga. Semoga bisa membantu Indonesia Tionghoa lainnya juga baik yang generasi lebih tua maupun yang lebih muda maupun di Indonesia maupun di luar negeri.
[00:41:19] Billy: Semoga ini bisa membantu dan semoga mereka juga bisa meraikan dengan baik. Tahun ini.
[00:41:23] Siauw Tiong Djin: Terima kasih, terima kasih.
